Rabu, 04 Agustus 2010

TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI – ABG TANAMAN JAGUNG

1. Persiapan dan pengolahan lahan.
Pengolahan lahan dengan ditraktor atau dicangkul, seperti yang biasa dilakukan, hingga lahan siap tanam. Pada tanah dengan kandungan bahan organik rendah (tidak subur), berikan pupuk organik sebagai pupuk dasar, yaitu campurkan 100 kg ABG-Bios dengan 1 ton pupuk kandang, kemudian sebarkan dalam larikan tanam sekitar (1–7) hari sebelum tanam.

2. Seleksi benih dan penanaman.
a. Seleksi benih. Untuk mendapatkan benih yang bermutu, gunakan benih jagung (hybrida), atau benih lokal yang bersertifikat.
b. Penanaman. Benih ditanam (1–2) benih/lubang, dengan jarak (70x25) cm atau (80x30) cm (jarak antar barisan 70 cm atau 80 cm, dan jarak antar tanaman dalam barisan 25 cm atau 30 cm) dengan kedalaman 2 cm.

3. Pemupukan.
a. Pupuk dasar. Untuk lahan seluas 1 ha, berikan campuran (100-200) kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 25 kg SP-36 + 25 kg KCl dan (1-2) bungkus ABG-BIO. Untuk meningkatkan efektivitas, inokulan ABG-BIO diaktifkan terlebih dahulu, dengan cara mencampurkan (1–2) bungkus ABG-BIO dengan (20-25) kg pupuk kandang + 1 kg dedak, kemudian tambahkan air hingga lembab, simpan dalam bentuk gundukan dan tutup dengan karung bekas, biarkan selama (2–3) hari. Kemudian campurkan dengan pupuk tersebut di atas, menjelang aplikasi. Pemupukan dilakukan (7–10) HST, pupuk disebar di sekeliling tanaman, atau di berikan dalam lubang tugal pada radius (5–10) cm dari tanaman, dan selanjutnya di lakukan pembumbunan.
b. Pupuk susulan. Berikan campuran 100 kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCl. Pemupukan dilakukan setelah penyiangan ke-dua, yaitu sekitar (30-35) HST. Pupuk diberikan di sekeliling tanaman/larikan, kemudian dilakukan pembumbunan.
c. Pupuk ABG. Pemberian pupuk ABG-D, dilakukan pada (10–14) HST, (20-25) HST dengan konsentrasi (1-2) cc/liter air, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Untuk memacu pembentukan bulir dan biji jagung, gunakan ABG-B, dengan konsentrasi (1-2) cc/liter air, diberikan pada 35 HST, 45 HST dan 55 HST

4. Pemeliharaan.
Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
• Penggunaan pestisida disesuaikan dengan jenis organisme penggangu tanaman.
• Penggunaan ABG-BIO pada pupuk dasar akan meningkatkan ketersediaan hara, kesehatan tanaman, dan menekan perkembangan penyakit tular tanah melalui mekanisme induced resistance.

5. Panen.
• Umur panen adalah (86-96) HST.
• Untuk jagung muda (baby corn), dipanen sebelum bijinya terisi penuh.
• Untuk jagung bakar, dan jagung rebus, dipanen ketika matang susu.
• Untuk beras jagung, tepung dan pakan ternak, dipanen jika sudah matang fisiologis.
• Lakukan penyortiran dan penggolongan, untuk menghindari serangan jamur dan hama, selama dalam penyimpanan dan meningkatkan kualitas panen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar